MANAJEMEN PENDIDIKAN

MANAJEMEN PENDIDIKAN

 

Oleh : Dr. Endi Rochaendi, M.Pd

Universitas Alma Ata, Yogyakarta

S2 Magister Pendidikan Agama Islam Alma Ata – Manajemen pendidikan umumnya dipahami sebagai kegiatan pengelolaan sumber daya manusia (human resources) dan sumber daya lainnya (other resources) dalam upaya pencapaian tujuan pendidikan. Di dalam kegiatan pengelolaan tersebut terdapat beberapa sub-kegiatan lainnya, meliputi: (a) implementasi sumber daya (resource implementation), integrasi proses dan kerjasama/kolaburasi. Para pakar manajemen pendidikan di Indonesia maupun pakar internasional mengartikan manajemen pendidikan sebagai suatu rangkaian panjang dari kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan pengaturan sumber daya manusia, sumber daya fisik dan material (sarana dan prasarana, keuangan, dan sumber daya material lainnya) serta sumber daya ideasional (kurikulum, proses pembelajaran dan peranserta masyarakat). Purwanto dan Ngawawi dalam Kristiawan, M., et.al. (2017) memandang manajemen pendidikan sebagai suatu tindakan kegiatan kerjasama, proses, pemanfaatan sumber daya dan penetapan tujuan pendidikan yang dicapai secara sistematis dan terukur. Usman, H., mendeskripsikan manajemen pendidikan sebagai rangkaian tindakan bertujuan secara efektif dan efisien dalam mengimplementasikan segala sumber daya pendidikan melalui proses perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan pendidikan.

Mulyasa (2004) menyatakan bahwa manajemen pendidikan sebagai proses penyatuan segala sumber daya (manusia dan material) dalam proses layanan pembelajaran yang efektif dan fungsional. Jika pemahaman ini diarahkan pada layanan pembelajaran akan sejalan dengan pandangan Amadi (2008) bahwa educational management is the process of bringing men and materials together for effective and functional teaching and learning in the school. Manajemen pendidikan dalam pandangan ini adalah menghubungkan layanan pembelajaran dan realisasinya dengan hasil akhir proses pendidikan pada satuan pendidikan. Hal tersebut sejalan dengan Kimani (2014) yang menyatakan bahwa manajemen adalah the process of working with and through groups or individuals to accomplish organizational goals, administration is concerned with directing and controlling life in a social system. The second difference is that administration deals with establishing a policy that guides decision-making laws and regulations. Management deals with implementation of laws and regulations. Sedangkan Van Fleet and Peterson dalam Kimani (2013) mengkaji manajemen pendidikan sebagai as a set of activities directed at the efficient and effective utilisation of resources in pursuit of one or more goals. Atau management is a problemsolving process of effectively achieving organizational goals and objectives through efficient use of scarce resources in a changing environment. Brech  defined management as a social process which constitutes planning, controlling, coordinating and motivating’ (Keitner dalam Kimani, 2013).

Mengacu pada pernyataan tersebut di atas, manajemen pendidikan dapat dipandang sebagai rangkaian kegiatan untuk mengintegrasikan sumberdaya manusia dengan sumber daya material dan sumber daya finansial yang tersedia untuk mencapai tujuan pendidikan secara efektif, efisien dan produktif. Manajemen pendidikan adalah sebuah proses kerjasama untuk mencapai tujuan pendidikan dengan melihat hubungan antar komponen pendidikan sehingga dapat memperbaiki sistem pendidikan dengan menggunakan perangkat yang mendukung kegiatan pembelajaran. Dalam hal ini Permadi dan Arifin (2010) memberikan pengertian bahwa manajemen pendidikan merupakan pengarahan, pengendalian dan manajemen dari semua urusan sekolah termasuk administrasi bisnis karena aspek kegiatan sekolah dapat dianggap sebagai pencapaian tujuan pendidikan. Manajemen pendidikan juga merupakan koordinasi dari kekuatan yang dibutuhkan untuk pengajaran yang baik bagi semua siswa dalam suatu organisasi sekolah ke dalam suatu perencanaan untuk mencapai tujuan satuan pendidikan dan memastikan kelayakan pencapaiannya.

Dari beberapa pendapat tentang manajemen pendidikan sebagaimana dijelaskan di atas, terdapat empat hal utama yang menjadi dimensi dasar dari sebuah manajemen pendidikan. Pertama, terdapatnya kerangka struktur (structural frame) yang membahas tentang masalah penetapan tujuan serta proses yang dilakukan yaitu perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan. Kedua, tersedianya sumberdaya (the resource frame) baik sumberdaya manusia dan sumber daya material yang terlibat secara sinergi dalam proses kerjasama tersebut. Ketiga, diketemukannya dimensi politik (the political frame) yaitu cara-cara dan strategi pelaksanaan untuk mencapai tujuan. Dan keempat, terdapatnya budaya kinerja (the organizational culture) yang diartikan sebagai tindakan yang mempunyai tingkat keberhasilan pada pencapaian tujuan secara efektif dan efisien. Kondisi demikian dalam pemahaman Okumbe (dalam Kimani, 2013) mengenai manajemen pendidikan merupakan … a process of acquiring and allocating resources for the achievement of predetermined educational goals (proses perolehan dan pengalokasian sumber daya untuk pencapaian tujuan pendidikan yang telah ditentukan). Dalam konteks tersebut terdapat keterlibatan proses bimbingan, kepemimpinan, dan pengendalian atas semua upaya yang dilakukan sumberdaya dalam pencapaian tujuan lembaga. Berdasarkan deskripsi tersebut, bahwa di dalam proses manajemen pendidikan telah terjalin hubungan keterkaitan semua sumberdaya baik manusia, material maupun financial dalam situasi harmonis dan fungsional, educational  management  is  therefore  concerned  with  the  utilization  of  adequate resources and the harmonization of relationships and interactions in  a  suitable  environment,  in  order  to  foster  the  attainment  of  the  goals  of  teaching and learning (Amadi, 2008).

Dapat disimpulkan bahwa manajemen pendidikan merupakan persamaan fungsi dari dimensi yang meliputi : (a) individu dan kelembagaan, (b) efektifitas, efisiensi dan kepuasan,  (c) kepemimpinan dan (d) moral (sikap). Individu dan kelembagaan adalah merujuk pada unsur pelaksana manajemen dalam dimensi aktifitas proses kerjasama tersebut. Efektifitas, efisiensi dan kepuasan menjadi perhatian utama dalam pencapaian tujuan individu atau kelembagaan. Sedangkan kepemimpinan adalah faktor utama untuk menggerakkan individu dan kelembagaan dalam pencapaian tujuan dan terakhir adalah budaya (sikap) adalah upaya-upaya yang dilakukan individu dan kelembagaan untuk pencapaian tujuan dimaksud. Penekanan utama ke empat fungsi ini adalah proses kerjasama, kemudian hasil yang dicapai, kesesuaian tujuan dengan harapan-harapan. Keberhasilan manajemen pendidikan ditentukan oleh relevansi (kesesuaian), responsibilitas (menjawab tantangan), efisien dan efektif.

Domain keterhubungan tersebut diderivasi kedalam gambaran sebagai berikut:

Gambar 1. Dimensi Manajemen Pendidikan (Dikembangkan dari sumber : Amadi, 2008)

Persfektif domain yang digambarkan di atas merupakan tindakan penataan manajemen pendidikan pada konteks proses yang lebih luas dan dinamis untuk mewujudkan sinergitas pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan yang menghasilkan kebermaknaan. Hal ini sejalan dengan pendapat Kythreorits (2012) yang menyatakan bahwa:

While education can learn from other settings, educational leadership and management have to be centrally concerned with the purpose or aims of education. These purposes or goals provide the crucial sense of direction to underpin school management. Unless this link between purpose and management is clear and close, there is a danger of ‘managerialism’, “stress on procedures at the expense of educational purpose and values. The process of deciding on the aims of the organization is at the heart of educational management.

Suatu hal yang amat penting bahwa esensi dari fenomena domain ini, sesungguhnya berdampak terjadinya keterlibatan yang lebih luas dalam proses pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan, terselenggaranya hubungan yang signifikan diantara komponen-komponen pendidikan, terciptanya komunitas dan kelembagaan pendidikan yang kondusif serta terselenggaranya desentralisasi pendidikan. Pada tataran ini bisa dikatakan bahwa manajemen pendidikan merupakan tahapan kegiatan pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan sebagai sebuah sistem yang diwujudkannya dalam praktek melalui proses pembuatan kebijakan publik. Secara substansinya, manajemen pendidikan adalah tata kelola dan tata layanan untuk mengatur dan menyelenggarakan kegiatan di bidang kurikulum dan proses pembelajaran, peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan, sarana dan prasarana pendidikan, pembiayaan pendidikan, kerjasama dan peranserta masyarakat serta budaya dan lingkungan pendidikan (sumber daya manusia dan sumber daya lainnya).

Manajemen pendidikan merupakan upaya komprehensif mengenai praktik-praktik pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan. Dalam kaitan tersebut, manajemen pendidikan fokus pada tiga bidang utama, yaitu sumber daya manusia melalui peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan dan masyarakat sebagai pengguna pendidikan. Kemudian, sumber pendidikan meliputi kurikulum dan proses pembelajaran serta budaya dan lingkungan pendidikan. Terakhir, fasilitas dan sumber pendanaan sebagai faktor pendukung sehingga proses pendidikan dapat berlangsung secara efektif, efisien dan produktif. Dengan kata lain, merupakan sarana integrasi dan pembingkai  berbagai unsur manajemen, yaitu : (a) man (sumber daya manusia dalam bentuk kepemimpinan manajerial dan kewirausahaan), (b) material (sarana dan prasarana, (c) machine (perangkat), (d) money (pembiayaan/keuangan), (e) method (sistem dan mekanisme), (f) Market (interaksi dan komunikasi), dan (g) minute (waktu pelaksanaan). Berkaitan dengan pernyataan di atas, LPU (2012) menyatakan bahwa, management is a collection of processes, including such things as decision-making, problem-solving and action-planning. These processes involve the management of resources including human, material, financial and time. These processes are also known as the functions of managers.

Dilihat dari sisi proses, terdapat empat fungsi dasar manajemen pendidikan. Pertama, adalah perencanaan pendidikan, yaitu sebagai upaya menetapkan tujuan pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan dan menetapkan Langkah-langkah tindak lanjut dan strategi pencapaiannya. Perencanaan merupakan pola tindakan yang akan dikembangkan untuk menyelesaikan masalah-masalah dan berbagai persoalan dalam proses pendidikan, baik dari sisi kurikulum dan proses pembelajaran, peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan, keuangan/pembiayaan, sarana dan prasarana pendidikan, peran serta masyarakat, budaya dan lingkungan pendidikan. Sheikh (2012) menyatakan bahwa planning is logically thinking through goals and deciding what needs to be accomplished in order to reach the organisations objectives…. Planning is the first step in management and is essential as it facilitates control, and is valuable in decision making and the avoidance of business ruin. Kedua, pengorganisasian sebagai bentuk implementasi dari pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan baik pada tingkatan sistem, kewenangan dan otorisasi maupun pada pelaksanaan pencapaian atas rencana pendidikan yang telah ditetapkan sehingga efektif, efisien dan produktif. Berkaitan dengan hal tersebut, Dawson (2002) menyatakan bahwa pengorganisasian adalah the process of gearing up toimplement decisions the result from the planning process; in other words, iti is the establishment of the structure in which the work gets done. Organizing involves delineating task and establishing a frame work of authority and responsibility for the people who will perform these tasks, that is, building the aforementioned structure.

Ketiga, penggerakkan merupakan wujud dari pemberdayaan peran interpersonal (koordinasi dan interaksi dari pelaku pendidikan), informasional (distribusi kewenangan, pembagian peran dan penganalisaan informasi), serta decisional (pengambilan keputusan dalam merealisasikan berbagai program dan kegiatan pendidikan), termasuk di dalamnya mengembangkan kepemimpinan pembelajaran. Sehingga manager pendidikan adalah must know their subordinates and what they are capable of, in order to organise the most valuable resources a company has – its employees (Bateman and Snell, 2007). Keempat, pengendalian merupakan kegiatan untuk melaksanakan pengawasan, evaluasi dan supervisi atas berbagai program dan kegiatan pengelolaan dan penyelenggaraan yang telah dilakukan. Beberapa hal yang menjadi fokus perhatian utama dalam kegiatan pengendalian, diantaranya: (a) upaya pencapaian kinerja program dan kegiatan, (b) pencapaian tujuan yang telah ditetapkan, (c) tingkat kreativitas yang dilakukan oleh para pemangku pendidikan, dan (d) hasil atau prestasi dari implementasi pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan baik pada aspek perluasan akses dan pemerataan pendidikan, peningkatan mutu dan relevansi pendidikan serta tata kelola layanan pendidikan. Hartley, S. (2018) menjelaskan bahwa Controlling involves ensuring that performance does not deviate from standards. Controlling consists of three steps, which include (1) establishing performance standards, (2) comparing actual performance against standards, and (3) taking corrective action when necessary.

Perspektif fungsi manajemen pendidikan digambarkan sebagai berikut :

Gambar 2. Fungsi Manajemen Pendidikan

Rumusan landasan operasional manajemen pendidikan tersebut bersebadan dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah dijelaskan bahwa pembagian urusan pemerintahan di bidang pendidikan meliputi beberapa sub urusan, antara lain: (a) Manajemen Pendidikan, (b) Kurikulum, (c) Akreditasi, (d) Pendidikan dan Tenaga Kependidikan, (e) Perijinan Pendidikan serta  (f) Bahasa dan Sastra.

Daftar Kepustakaan

Amadi, E. (2008), Education Administration. A Module. Port Harcourt: Harey Publications.

Dawson, R. (2016). Basic Management Fuctions. Aptara : EQA.

Eric, A. (2008). Educational Administration. A Module. Port Harcourt. Harey Publications.

Kimani, G.N., (2010). Educational Management. Nairobi : African Virtual University.

Kristiawan, M., Safitri, D., Lestari, R., (2017). Manajemen Pendidikan. Yogyakarta: Deepublish.

Kythreoritis, A. (2012). Exploring LeadershipTole In School Effectiveness And The Vlidation Of Models Of Prinsipals. Effect Ons Student Achievement. www.toplinisis.com/conferences.

Mulyasa, E. (2004). Manajemen Berbasis Sekolah : Konsep, Straregi dan Implementasi. Bandung : Remaja Rosdakarya.

Permadi, D., dan Arifin, D. (2010). Kepemimpinan Transformasional Kepala Sekolah Dan Komite Sekolah. Bandung: PT Sarana Panca Karya Nusa.

Sheikh, M.A. (2010). Understanding Educational Management, A Handbook for Teachers and the Taught. Uppar Topa Muree.

Usman, H., (2006). Manajemen. Teori, Praktik, dan Riset Pendidikan. Jakarta: Bina Aksara.