Tantangan Madrasah dalam Menghidupkan Pendidikan Karakter (Living Value Education)

Tantangan Madrasah dalam Menghidupkan Pendidikan Karakter (Living Value Education)

Oleh : Dr. Ahmad Salim, M.Pd

S2 Magister Pendidikan Agama Islam Alma Ata – Pendidikan karakter hingga detik kini masih menjadi sesuatu yang sangat populer dalam alam pendidikan kita, meskipun pembelajaran banyak terfokus pada daring akibat pandemi yang masih menghantui kehidupan manusia di bumi ini. Ketenaran tema pendidikan karakter ini disebabkan karena didengungkan atau dibuat populer oleh para pakar pendididikan negara kita. Konsep pendidikan karakter yang sebenarnya berakar dari nilai keyakinan suatu masyarakat suatu bangsa seolah menjadi wabah yang cepat menyebar ke seluruh institusi pendidikan.

Pendidikan karakter menjadi salah satu alternatif jawaban untuk memperbaharui kegersangan output pendidikan kita. Roh pendidikan karakter ini harus terinternalisasi dalam semua komponen pendidikan sehingga tercipta output pendidikan yang mempunyai keseimbangan kompetensi baik pada dataran kognitif, afektif dan psikomotorik. Untuk mencapai luaran ideal tersebut maka langkah awal yang dilakukan oleh pemerintah adalah dengan cara memasukan pendidikan nilai ke dalam kurikulum di sekolah/madrasah.

Keadaan Riel Madrasah

            Kondisi madrasah pasca dikeluarkannya SKB tiga menteri tahun 1975 berimbas pada pengurangan beberapa materi agama untuk diganti dengan materi umum sehingga berpengaruh kepada eksistensi madrasah yang sudah cukup kuat beriringan dengan sekolah umum. Usaha tersebut di atas, mengakibatkan eksistensi madrasah mendapatkan pengakuan yang sama dengan sekolah pada berbagai segi termasuk juga pada ijazah yang diperolehnya oleh siswa madrasah.

            Kesejajaran madrasah dengan sekolah umum ternyata menimbulkan masalah sendiri bagi madrasah. Beberapa masalah yang dihadapi madrasah secara umum menurut Raharjo (2009) antara lain: pendangkalan pemahaman agama bagi siswa madrasah. Muatan kurikulum agama sebelum SKB dirasa belum mampu mencetak muslim sejati, apalagi kemudian dikurangi. Tamatan Madrasah  dirasakan mempunyai kompetensi serba tanggung, pengetahuan agamanya tidak mendalam sedangkan pengetahuan umumnya juga rendah.

            Selain akibat dari pengurangan mata pelajaran agama,  madrasah juga mempunyai beberapa problem disebabkan karena dualisme kebijakan pemerintah antara sekolah dan madrasah (terutama pra-reformasi), lemahnya sistem manajemen madrasah dan  rendahnya kualitas SDM serta rendahnya kualitas raw input madrasah. Akibat dari berbagai persoalan di atas pada giliranya memunculkan efek domino bagi madrasah salah satunya kesulitan madrasah untuk memelihara eksistensinya pada sisi penciptaan lingkungan madrasah yang selalu berpegang teguh pada pendidikan karakter/nilai. Akhir-akhir ini, sifat-sifat yang menjadi cirikhas pendidikan karakter seperti kedisiplinan, kejujuran, bertanggungjawab, pantang menyerah, masih sulit ditemukan pada stakeholder madrasah, padahal seharusnya madrasah menjadi gudangnya sifat-sifat luhur tersebut.

Kondisi yang dibutuhkan

Untuk mewujudkan madrasah berkualitas dengan salah satu indikatornya terinternalisasinya nilai karakter dalam kehidupan madrasah maka madrasah membutuhkan manajemen profesional. Pengelolaan profesional sebagaimana diatur dalam PP RI No 19 tahun 2005, maka menurut penulis hal yang mendesak untuk segera dilakukan adalah:

  1. Kepala madrasah visioner

Mengingat perbagai persoalan madrasah terkait dengan internalisasi pendidikan nilai sebagaimana disebutkan di atas maka, madrasah membutuhkan kehadiran kepala madrasah visioner. Seorang kepala madrasah yang mampu mengantisipasi kompleksitas perubahan yang ada di madrasah berdasarkan jati diri bangsa yang hakiki yang bersumber dari nilai-nilai agama dan budaya. Pemimpin yang bisa menggerakkan semua komponen pendidikan yang ada di madrasah baik komponen terkait dengan SDM ataupun yang lainya.

Kepala madrasah visioner sebagaimana diungkapkan oleh Christhoper Mazzeo (2003) adalah kepala sekolah yang mampu membawa perubahan dalam pengembangan ide, pengembangan program, serta perubahan dari srategi pembelajaran. Bentuk kerja nyata kepala madrasah terkait dengan penerapan pendidikan nilai lebih tertumpu pada kemampuanya mengendalikan stakeholder madrasah terbiasa dalam penerapan nilai –nilai luhur yang sudah sangat mashur dalam hafalan tetapi sangat susah dalam penerapanya. Kepala madrasah visioner dengan kompetensi yang dimilikinya dapat ”memaksa” semua stakeholder madrasah dan termasuk dirinya sendiri untuk berusaha mengamalkan nilai-nilai tersebut. Dengan bahasa sederhana dapat dikatakan bahwa kepala madrasah visionerlah yang mampu menahkodai gerbong madrasah dalam penerapan pendidikan nilai melalui kemampuan yang dimilikinya termasuk diantaranya adalah kemampuan dan kepatutanya untuk dijadikan contoh.

  1. Peningkatan kompetensi pendidik

Komponen selanjutnya yang sangat menentukan keberhasilan penerapan pendidikan nilai adalah guru. Guru merupakan komponen terakhir yang menjadi ujung tombak pelaksana dari semua program sekolah terkait dengan pembelajaran. Sebagus apapun desain pembelajaran yang dimiliki sekolah/madrasah tanpa didukung/dilaksanakan oleh guru maka program tersebut akan sia-sia. Peserta didik akan memiliki pribadi yang baik bila diasuh oleh pendidik yang berkepribadian baik, peserta didik akan memiliki motivasi dan keinginan belajar tinggi bila dididik oleh pendidik yang mempunyai animo tinggi untuk belajar, peserta didik akan memiliki keterampilan bila dibimbing oleh pembimbing yang cekatan dan tanggap lingkungan, anak dapat hidup berdisiplin, jujur, bersih, tertib bila dia dibina oleh pendidik yang memiliki pola hidup teratur, demikian seterusnya.

  1. Peningkatan kesadaran orang tua akan pentinya pendidikan nilai bagi anak

             Selanjutnya yang tidak kalah penting berperan dalam sukses tidaknya penerapan pendidikan karakter di madrasah adalah faktor orang tua. Orang tua sebagai pemilik hakiki anak sangat berpengaruh terhadap semua aktivitas yang dilakukan oleh anaknya. Kesadaran orang tua akan pentingnya penerapan pendidikan nilai di keluarga akan sangat mempengaruhi cara pikir dan bertindak orang tua dalam mengimplemetasikan nilai tersebut dalam keluarganya sesuai dengan kemampuan dan kualifikasi pendidikannya. Kesadaran penuh tersebut akan menimbulkan sikap dan tindakan yang mengedepankan sikap tanggungjawab proporsional demi terbentuknya karakter manusia yang utuh, profesional dan sangup menghadapi segala tangtangan kehidupan. Kesadaran orang tua juga akan meringankan beban madrasah dalam merubah sikap dan karakter peserta didik menuju karakter yang ideal.

            Maka dapat disimpulkan bahwa tantangan madrasah dalam penerapan pendidikan karakter dapat diantisipasi dengan cara pengangkatan kepala madrasah visioner, peningkatan kompetensi guru serta peningkatan peran orang tua dalam menerapkan pendidikan karakter di keluarga.