Sekolah Ramah Anak dalam Mewujudkan Students Wellbeing

Sekolah Ramah Anak dalam Mewujudkan Students Wellbeing

Oleh : Dr. Kana Safrina Rouzi, M.Si

kanasafrina@almaata.ac.id 

S2 Magister Pendidikan Agama Islam Alma Ata – Sekolah saat ini sudah menjadi rumah utama bagi tumbuh kembang anak karena sebagian besar waktu anak dihabiskan di sekolah. Anak berada di sekolah lebih kurang 8-10 jam perhari. Sehingga sekolah diharapkan bisa menjadi kekuatan daripada kelemahan dalam menunjang perkembangan jiwa anak, pengembangan kompetensi daripada patologi dan lebih pada peningkatan kualitas positif. Tersirat dalam tren ini adalah asumsi bahwa lingkungan sekolah dapat dipromosikan untuk mendorong kekuatan positif anak seperti ketahanan, kompetensi, dan optimisme melalui perhatian terhadap pencegahan dan pengembangan institusi positif (Clonan, Chafouleas, McDougal, & Riley-Tillman, 2004).

Pendidikan yang dijiwai kasih sayang dari pendidik akan menimbulkan rasa aman pada diri murid. Kenyamanan ini akan membuat suasana belajar menjadi menyenangkan, pikiran menjadi terbuka, perasaan menjadi jernih dan tajam (Anis, 2010). Ulwan (1999) menegaskan bahwa pendidik haruslah mempunyai sifat lemah lembut dan kasih sayang karena hal tersebut adalah dasar pembenahan anak dan kalaupun anak melakukan kesalahan maka pemberian hukuman pun juga dengan cara lemah lembut dan ramah tamah sehingga anak dapat menyadari kesalahannya.

Snyder (Lopez & Snyder, 2012) menyebutkan guru yang berkualitas adalah guru yang memiliki rasa peduli, perhatian dan menghormati atau menghargai muridnya. Guru harus mampu berperan aktif dalam merespon dan menyediakan emosi positif secara konsisten. Hal ini bisa menimbulkan rasa nyaman bagi murid. Kondisi yang kondusif ini dapat mengembangkan daya eksplorasi murid sehingga murid mampu menemukan jalan dalam pencapaian tujuan akademik dan masa depannya. Snyder juga menyebutkan bahwa guru yang baik tahu kapan harus mengulurkan tangan dan membantu siswa yang menghadapi krisis dan membangun kepercayaan di kelas. Hubungan ini menjadi penting karena untuk mencegah murid dari tindakan agresif dan merugikan orang lain serta untuk mendorong kemandirian dan kepercayaan diri.

Sekolah yang menyediakan pengembangan kompetensi dan lebih pada peningkatan kualitas positif adalah sekolah yang mempunyai komponn-komponen positive schooling yang dideskripsikan seperti bangunan rumah sekolah dimana yang menjadi fondasinya adalah care, trust dan respect for diversity. Kemudian yang menjadi lantai pertama dan kedua adalah teaching goals, planning dan motivasi siswa. Selanjutnya pada lantai ketiga ada hope, dan yang menjadi atapnya adalah social contributions.

Fondasi pertama adalah Care yaitu sikap yang paling mendasar dalam supportive environment karena dalam lingkungan inilah murid flourish (berkembang). Murid membutuhkan guru yang peduli, dan yang mampu menyediakan emosi positif sehingga timbul rasa nyaman dalam mencapai tujuan akademik dan hidupnya. Trust harus ada dalam hubungan guru-murid di sekolah terutama di dalam kelas. Guru harus mampu menimbulkan rasa percaya murid terhadap guru. Guru juga harus bisa mencari cara untuk membuat siswa terlihat baik di depan temen-temannya dan mendengarkan pandangan para siswa di kelas. Respect for diversity tidak kalah pentingnya untuk mendorong murid menghargai dan menghormati perbedaan, baik itu perbedaan ras, etnis, dan agama. Guru harus bisa menegaskan bahwa perbedaan bukanlah sebuah masalah dan membantu siswa berpikir melampaui sudut pandang mereka sendiri.

Komponen selanjutnya adalah goals (content) yaitu memberikan sarana untuk menargetkan usaha belajar siswa. Bahkan, tujuan tersebut sangat membantu jika disepakati oleh guru dan siswa (Dweck, 1999; Locke, & Latham, 2002). Mungkin targetnya yang paling kondusif adalah tujuan yang luwes, di mana siswa mencari sedikit lebih sulit dari tujuan belajar yang dicapai sebelumnya. Tujuan yang cukup menantang akan menghasilkan pembelajaran produktif, apalagi jika tujuannya bisa disesuaikan dengan kebutuhan tertentu.

Plans dan motivasi, keduanya berinteraksi dengan edukasi
seperti membangun sains dan mengumpulkan gagasan; pengajaran memerlukan proses perencanaan yang cermat dari seorang guru. Dan motivasi adalah pendamping untuk perencanaan karena bahan pelajaran yang relevan akan memotivasi siswa dalam menghadiri kelas, memperhatikan, dan memberikan komentar selama proses belajar mengajar. Pemberian pujian dan feedback sangat memotivasi murid dan bisa meningkatkan rasa percaya dirinya. Hope maksudnya adalah guru mampu mendorong siswa mencapai nilai akademis, keingintahuan, dan antusiasme yang berfokus pada disiplin dan pengajaran, sehingga berkembang rasa pemberdayaan. Siswa diberdayakan untuk menjadi pemecah masalah seumur hidup sehingga jalur berpikir dari motivasi “aku bisa” menghasilkan rasa harapan pada murid di sekolah.

Komponen terakhir yang merupakan atap dari bangunan positive schooling adalah societal contributions. Guru harus mampu memberi pemahaman pada murid bahwa mereka adalah bagian dari skema masyarakat yang lebih besar di mana mereka berbagi apa yang mereka miliki dan belajar dengan/dari orang lain. (ksr)