PESAN TARBIYAH DALAM QURBAN

PESAN TARBIYAH DALAM QURBAN

By. Nur Kholik

(Prodi PAI Universitas Alma Ata)

S2 Pendidikan Agama Islam Alma Ata – Merujuk pada hasil sidang isbat penetapan Idul Adha 2022 yang telah diselenggarakan Kementerian Agama (Kemenag) pada 29 Juni 2022. Dimana hasil sidang isbat menetapkan bahwa hari Raya Idul Adha 1443H dan shalat Idul Adha 2022 jatuh pada tanggal 10 Juli 2022. Hal tersebut mengacu pada “Sidang isbat yang telah mengambil kesepakatan bahwa tanggal 1 Zulhijah tahun 1443 Hijriah ditetapkan pada Jum’at 1 Juli 2022”.

Menengok sejenak, bahwa ritual kurban mengikuti jejak Nabi Ibrahim. Namun nampakanya kisah ini jamak termaktub dalam variasi menarik al-Qur’an dan Kitab Kejadian. Dikisahkan Ibrahim bermimpi menerima perintah mengejutkan dari Tuhan (Q.S. Ash-Shaffah: 99) dia harus “menyembelih” putra terkasihnya sebagai kurban. Status siapa anak yang dimaksud di sini masih musykil dan juga tidak disebutkan dalam al-Quran. Tetapi, dalam Islam secara bertahap menerimanya sebagai Ismail.

Terlihat, perayaan Idul kurban menjadi alegori sarat makna bagi manusia. Sehingga dapat dikatakan selain sebagai sarana mendekatkan diri kepada Tuhan, nilai kurban melukiskan bentuk pengorbanan harta benda yang disukai untuk orang lain.

Terilhami, Ahmad Ali al-Jurjawi (1938) dalam kitab Hikmat at-Tasyri’ wa Falsafatuhu, menyatakan bahwa;

Perayaan kurban mengandung hikmah yang sangat mulia diantaranya dengan menampakkan pengabdian sempurna kepada Sang Pencipta. Sebagai hamba Allah Swt yang berbakti, Nabi Ibrahim mentaati dan membawa anak itu ke Gunung Moriah untuk disembelih. Pada saat terakhir, Allah yang “takjub” dengan pengabdian Ibrahim menyelamatkan anak itu dengan mengirimkan seekor domba jantan sebagai pengganti.

Melihat uraian di atas, tentu ini merupakan esoteris tentang Idul Kurban yang memiliki pesan pendidikan yang sangat menakjubkan. Adapun alasan Tuhan menggantikan “leher” Nabi Ismail dengan domba yang gemuk adalah untuk menjaga satu hal yakni kemanusiaan. Jika dilihat dari sisi pendidikan maka dapat dikatan domba adalah simbol sifat kebinatangan pada diri manusia yang harus dimusnahkan (dihilangkan). Sedangkan martabat kemanusiaan menjadi ihwal pokok dalam agama yang wajib dijunjung tinggi.

DIMENSI TARBIYAH DALAM QURBAN

Pendidikan Keimanan

Iman merupakan kepercayaan yang terhujam ke dalam hati dengan penuh keyakinan, tak ada perasaan syak (ragu-ragu) serta mempengaruhi orientasi kehidupan, sikap dan aktivitas keseharian. Al-Gazali menyatakan iman adalah mengucapkan dengan lidah, mengakui benarnya dengan hati dan mengamalkan dengan anggota badan. Adapun Assegaf menyatakan iman berarti pengetahuan (knowledge), percaya (belief, faith) dan yakin tanpa bayangan keraguan (to be convinced beyond the least shadow of doubt). Jadi dapat dirumuskan iman adalah kepercayaan yang teguh timbul akibat pengetahuan dan keyakinan. Iman ini yang menuntun seseorang untuk bersikap taat, tunduk, patuh, pasrah, dan takwa kepada Allah Swt. Jika dikaitkan dengan ibadah kurban, sungguh keimanan yang begitu luar biasa kokoh diperlihatkan Ibrahim dan Ismail. Buah dari keimanan mereka adalah melaksanakan perintah penyembelihan dari Allah Swt. Dengan siap melakukan apa saja yang diperintahkan Allah, termasuk mengorbankan orang yang disayangi bahkan nyawanya sekalipun.

Pendidikan Akhlak

Diketahui akhlak merupakan sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan perbuatan-perbuatan tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan. Menurut Rāgib al-Iṣfahānī, akhlak yaitu suatu daya yang diketahui akal atau bagi dayah gariziyyah (tabiat), dalam arti suatu keadaan yang diupayakan menuju terbentuknya sesuatu, atau berbagai upaya manusia dalam melatih kemampuan-kemampuan melalui pembiasaan. Dimana pendidikan akhlak yang tercermin dalam ibadah kurban, dapat dilihat dari beberapa sikap Ibrahim sekeluarga dalam merespons perintah penyembelihan dari Allah SWT, yaitu: Do’a nabi Ibrahim kepada Allah Swt, agar dikaruniakan anak saleh, sikap Ismail setelah mendengarkan perintah penyembelihan dari Allah Swt, kepatuhan Hajar kepada Allah dan suaminya ketika “digoda” setan untuk menghentikan Ibrahim melakukan penyembelihan terhadap anaknya.

Pendidikan Kesabaran

Sabar adalah pengendalian diri untuk tidak berbuat keji dan dosa, mampu menaati perintah Allah Swt. Kesabaran bukanlah kepasrahan terhadap segala sesuatu yang sulit untuk dilaksanakan atau dicapai, kesabaran juga tidak pernah menutup potensi manusia untuk berusaha mengeluarkan segala kemampuan yang dia miliki, melainkan membuat manusia untuk tetap optimis dan mempunyai jiwa yang giat berusaha tanpa mengenal yang namanya putus asa. Jadi, sabar adalah ketabahan hati seseorang dalam menerima dan menghadapi berbagai ujian dari Allah. Nilai pendidikan kesabaran yang dicontohkan dalam ibadah kurban adalah ketabahan hati Ibrahim sekeluarga dalam menerima ujian dari Allah berupa perintah penyembelihan anaknya. Sejarah tersebut mengindikasikan bahwa sabar itu hanya berlaku untuk ketetapan Allah yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Orang yang sabar bukan berarti selalu menunggu dengan berdiam diri tanpa langkah yang pasti, melainkan selalu aktif dalam merancang segala tindakannya dan cenderung tidak tergesa-gesa dalam mengambil sikap dan keputusan.

Pendidikan Tawwakal

Diketahui tawakal adalah membebaskan hati dari ketergantungan selain pada Allah Swt dan menyerahkan secara total segala keputusan hanya kepada-Nya. Pendidikan tawakal yang terkandung dalam sejarah ibadah kurban ditunjukkan ketika Ibrahim bersiap menyembelih Ismail dan Ismail berada pada posisi bersiap untuk disembelih, keduanya berserah diri kepada Allah Swt, sebagaimana disebutkan dalam (Q.S alṢaffāt/37:103). Hal ini menunjukkan tawakal bukan akhir dari ikhtiar saja, tetapi mengawali ikhtiar, menemani ikhtiar, dan mengakhiri ikhtiar, sehingga tawakal dapat menjadi penyemangat kekuatan lahiriah dan pengokoh kekuatan batiniah. Orang tawakal tinggi semangat kerjanya, tidak mudah putus asa dan jauh dari rasa kecewa.

Pendidikan Demokratis

Demokrasi dalam pendidikan dimaknai sebagai sifat kepemimpinan orang tua dalam mendidik yang menduduki unsur kewibawaan (bukan otoriter), kepemimpinan ini disesuaikan dengan taraf perkembangan anak dengan cita-cita, minat, kecakapan, dan pengalamannya. Anak ditempatkan pada tempat yang semestinya, mempunyai kebebasan untuk berinisiatif dan aktif. Oleh karena ketika melihat pendidikan demokratis yang dicontohkan nabi Ibrahim dalam ibadah kurban terlihat pada cara menyampaikan perintah Allah Swt yang diperoleh hanya berlandaskan pada mimpi, disebutkan dalam Q.S al-Ṣaffāt/37:102. Dalam ayat tersebut di uraikan bahwa Ibrahim tidak mengatakan “saya ingin menyembelihmu karena perintah Allah”, akan tetapi ia mengatakan “saya diperintahkan Allah menyembelihmu, bagaimana pendapatmu mengenai perintah itu?” Kalimat dalam pertanyaan ini menunjukkan keyakinan Ibrahim akan kewajiban melaksanakan penyembelihan, namun Ibrahim masih menanyakan pendapat Ismail mengenai penyembelihan itu. Disinilah sikap demokratis yang perlu diteladani dalam mendidik anak (peserta didik).

Pendidikan Sosial

Sosial yakni segala sesuatu yang berkaitan dengan masyarakat atau secara abstraktif berarti masalah-masalah kemasyarakatan yang menyangkut berbagai fenomena hidup dan kehidupan orang banyak. Menurut Jalaluddin, pendidikan sosial adalah usaha membimbing dan mengembangkan potensi peserta didik secara optimal agar mereka dapat berperan serasi dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat lingkungannya. Dikisahkan bahwa ibadah kurban terkait kesadaran Ibrahim sekeluarga atas tugas, peran, dan tanggung jawabnya dalam keluarga sangatlah tinggi. Hal ini tentunya tidak dapat terwujud tanpa upaya dari Ibrahim yang dengan baik melakukan perannya sebagai kepala rumah tangga, suami, ayah, dan pendidik. Buah dari keberhasilannya itu diberikan balasan oleh Allah berupa keselamatan, predikat muhsin, serta disyariatkan ibadah kurban untuk meneladani dan memujinya. Salah satu hikmah dianjurkannya seseorang melihat kurbannya disembelih agar berbaur dengan masyarakat. Hikmah dianjurkannya pembagian daging kurban adalah melatih untuk bersedekah dan merasakan perasaan orang miskin. Namun, ibadah kurban bukan dikotomi antara si miskin dan si kaya, tetapi kesadaran akan tanggung jawabnya masing-masing dalam masyarakat, inilah yang akan membentuk struktur kesatuan sosial.

Berdasarkan penjelasan di atas dapat kita ambil pesan tarbiyah dalam kurban dan penulis merekomendasikan perlunya reorientasi pembelajaran di Indonesia dari yang mengutamakan kognitif menuju yang mengutamakan afeksi. Hal ini sulit tercapai tanpa profesionalitas pendidik dalam menjalankan tugas, peran, dan tanggung jawabnya. Pendidik akan senantiasa berusaha untuk berbuat maksimal bila upayanya dalam mendidik didasari dengan rasa cinta terhadap keprofesiannya. Rasa cinta ini yang akan menumbuhkan keikhlasan, keikhlasan membuat pekerjaan terasa mudah dan mendatangkan berkah dari Allah SWT.

Wallahu a’lam bish-shawabi ( والله أعلمُ ﺑﺎ ﻟﺼﻮﺍﺏ )